Air bersih menjadi kebutuhan mendasar pada kehidupan manusia. Ketersediaan air bersih sangat penting dalam memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga dan fasilitas umum. Kebutuhan air bersih meningkat setiap tahun seiring pertumbuhan penduduk yang pesat.
Salah satu titik kritis yang menentukan keberhasilan ketiga syarat tersebut adalah sistem perpipaan distribusi. Jika pipa sering bocor, rusak, atau tidak mampu menahan tekanan, maka air bersih yang sudah diproduksi oleh (Instalasi Pengolahan Air) akan terbuang sia-sia. Jadi sebelum pipa sampai ke pelanggan, tentunya harus dipastikan terlebih dahulu.
Sayangnya, di banyak wilayah Indonesia dan negara berkembang lainnya, pertumbuhan penduduk yang sangat cepat (rata-rata 1,1–2 % per tahun). Hal ini telah membuat kebutuhan air bersih meningkat jauh lebih cepat daripada kemampuan penyediaan infrastruktur.
Kelancaran distribusi air bersih menjadi langkah awal pemenuhan kebutuhan masyarakat oleh Perumda dengan melakukan pemasangan pipa jalur distribusi air bersih. Tantangan utama dalam distribusi air bersih adalah ketersediaan sistem perpipaan yang efisien, tahan lama, dan mampu mengalirkan air dengan tekanan yang memadai tanpa kebocoran.
Mengapa Harus Pipa HDPE ?
Pipa HDPE (High-Density Polyethylene) atau yang di Indonesia lebih dikenal sebagai pipa PE-100. Pipa ini telah terbukti menjadi material paling tepat untuk jaringan distribusi air bersih, terutama di era tantangan lingkungan dan pertumbuhan kota yang ekstrem.
Pipa HDPE (High-Density Polyethylene) kini banyak menjadi solusi dalam sistem distribusi air bersih. Hal ini karenakan HDPE memiliki keunggulan seperti ketahanan terhadap berbagai cuaca. Tak hanya itu, pipa HDPE sangat tahan terhadap kondisi lingkungan termasuk area dengan kondisi tanah. Dengan HDPE lebih stabil, fleksibilitas tinggi, ringan, serta daya tahan terhadap tekanan internal dan eksternal (Choi et al, 2020).